Sedikit Asa untuk Engkau, Calon Pemimpin Kami


Garuda Merah Prabowo Hatta

Yang Saya Cintai Bapak #PrabowoHatta

Perkenalkan, saya seorang pekerja sosial, satu dari sekian banyak perempuan Indonesia yang merasa terpanggil dan ingin turut serta membuat wajah negeri ini tersenyum. Tidak kurang dari lima tahun saya menekuni profesi ini. Dan di sudut-sudut desa, saya belajar banyak hal. Semakin jauh saya melangkah, sungguh semakin saya mencintai perjalanan ini, dan mensyukuri betapa negeri ini adalah karunia yang luar biasa.

Pak #PrabowoHatta, di sudut-sudut desa itu pula saya melihat dengan dekat, banyak anak negeri ini yang belum bahagia. Ada sekian banyak cerita; balita yang mengalami gizi buruk, anak putus sekolah, orang tua yang cemas karena tidak memiliki penghasilan yang tetap, saudara-saudara kita yang berkebutuhan khusus yang perlu diberdayakan, petani yang kesulitan pupuk dan mengeluhkan mahalnya bibit, peternak yang belum sejahtera, pedagang yang kesulitan modal, dan para buruh dengan upah yang sangat rendah. Saya juga masih menemukan rumah gelap tanpa listrik dan rumah-rumah tidak layak huni, pak.

Tetapi di balik cerita sedih itu, masih banyak cerita yang membahagiakan. Di sudut-sudut desa itu, saya melihat tradisi gotong royong masih indah. Saya masih menemukan keramahan, kehangatan, kebersamaan, dan kemauan untuk saling berbagi. Maka saya yakin, kita akan bisa menjadi bangsa yang besar ketika tradisi gotong-royong ini masih kita miliki. Memang, di sisi lain banyak hal dan banyak akhlak rakyat negeri ini yang harus dibenahi. Tapi saya yakin, hadirnya pak #PrabowoHatta adalah ruh dan semangat baru dalam perjuangan membangun negeri yang kita cintai ini.

Ini lho pak, foto peternak di desa binaan saya..

Peternak juga dukung #PrabowoHatta #SelamatkanIndonesia

“Ini tambahan semangat dari kami pak…” Peternak dukung #PrabowoHatta #SelamatkanIndonesia

 Pak #PrabowoHatta yang baik, pasti tidak ada pasangan Capres dan Cawapres yang sempurna, tapi saya melihat bapak berdua seperti pemimpin paket komplit. Visi Misi tidak diragukan lagi, dan rekam jejak kontribusi bapak berdua juga luar biasa. Dari seluruh rangkaian debat, saya yakin rakyat Indonesia yang melihat dengan mata hati mampu menilai bahwa bapak berdualah yang merupakan negarawan sejati, yang santun, matang dan berwawasan luas. InsyaaAllah Pak #PrabowoHatta menjadi juaranya. Dan apapun hasilnya, bapak tetap menang karena menggunakan cara-cara yang baik dan mengutamakan #IndonesiaSatu. Saya yakin siapapun yang mendengar perkataan bapak calon presiden pasti akan dibuat jatuh hati;

“Kalau ada yang bertanya, apa strategi #PrabowoHatta?, strategi #PrabowoHatta adalah terus memberikan kebaikan untuk seluruh rakyat Indonesia. Meski mereka menghujat, kita bersabar. Meski mereka menghina dan mencaci maki, tetap kita hormati.
KARENA KITA CINTA INDONESIA”.

 
Ijinkanlah saya sebagai rakyat biasa turut memberikan aspirasi:

1. Ide kepempimpinan kolektif kolegial yang bapak sampaikan adalah ide hebat.
Ini mencerminkan kerendahhatian, dan pengakuan bahwa yang menjadi pemimpin itu bukanlah yang terbaik. Mengelola negeri ini tidak hanya bisa diwujudkan oleh segelintir orang, tapi harus punya tim impian yang terdiri atas putra-putri terbaik bangsa ini, meskipun bukan dari partai mitra koalisi. Dan pemimpin yang bijaksana adalah pemimpin yang memohon untuk didukung ketika melakukan kebaikan, dan memohon untuk diingatkan ketika perlu diluruskan.

2. Komitmen meneruskan pembangunan yang sudah dilakukan pemerintahan sebelumnya. Ini dikarenakan pembangunan adalah proses jangka panjang, dan berkesinambungan. Tidak selayaknya proses pembangunanan berjalan terputus-putus karena ego dan kepentingan kelompok tertentu.

3. Tegas, dekat rakyat dan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi rakyat untuk berkontribusi. Setiap rakyat pasti menginginkan pemimpin yang tegas, dekat, apa adanya, dan terbuka dengan masukan-masukan. Bangsa maju biasanya merupakan bangsa yang mengundang putra-putri terbaiknya untuk turut berkontribusi. Hal ini bisa direalisasikan dalam bentuk pusat-pusat kreatifitas, kemudahan riset, apresiasi dan penghargaan yang baik terhadap karya putra-putri bangsa ini.

Pak #PrabowoHatta yang saya cintai, demikian aspirasi sederhana saya dari desa. Bapak adalah harapan baru bagi Indonesia. Saya mengerti betapa mengelola negeri ini bukanlah hal yang sederhana. Maka saya belajar, bahwa ketika saya memilih pemimpin, saya juga bertanggung jawab untuk membantu pemimpin negeri ini. Tidak peduli seberapa rumit kesulitan yang kita hadapi saat ini, sangat mungkin kita membangun kehidupan bangsa yang terhormat yang berlandaskan keadilan dan dipenuhi kemakmuran. Masih sangat mungkin. Dengan syarat: kita terus berjuang bersama menata indah taman Indonesia ini. Dan Akhirnya, semoga seluruh niat dan perjuangan Bapak Prabowo-Hatta untuk membangun negeri ini diridhoi Allah SWT, Tuhan semesta alam.

Jika do’a menemukan dua kehendak: kehendak manusia dan Tuhannya. Maka di Ramadhan yang indah ini saya berdo’a, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa menakdirkan Bapak berdua menjadi pemimpin negeri ini, menjadi pemimpin yang mencintai kami dan kamipun mencintai bapak. Aamiin.

Ayooo kita coblos pecinyaaa...! :)

“Ayooo kita coblos pecinyaaa…!” kata ibu petani yang manis ini 🙂

Dua Nasihat Tentang Waktu

Pada setiap hari di hadapanmu ada saat-saat istimewa di pagi hari, juga di sore hari, serta di saat-saat sahur. Di waktu-waktu itu jiwamu yang bersih bisa meninggi ke langit dan engkau pun bisa mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Di hadapanmu juga ada musim-musim ketaatan, hari-hari untuk ibadah, malam-malam untuk taqarrub, yang telah diajarkan oleh kitab sucimu, juga Rasulmu yang mulia. Maka jadilah engkau di waktu-waktu mulia itu sebagai orang yang banyakak berdzikir, bukan orang yang banyak lalai. Jadilah orang yang banyak beramal, dan bukan orang yang banyak malasnya. Manfaatkanlah waktu, sesungguhnya waktu bagaikan pedang, jangan menunda dan berjanji ‘akan’, karena tidak ada yang lebih berbahaya dari menunda-nunda.

(Hasan Al-Banna)

 

Tahun adalah batang pohon. Bulan adalah dahan-dahannya. Hari-hari adalah ranting-rantingnya. Jam-jam adalah daun-daunnya. Dan nafas-nafas adalah buah-buahnya. Barangsiapa yang nafas-nafasnya untuk ketaatan, maka buah pohonnya pasti baik. Barangsiapa yang nafas-nafasnya untuk kemaksiatan, maka buahnya pasti pahit. Musim panennya adalah hari pembalasan. Pada saat panen, di situlah akan jelas mana buah yang manis dan mana buah yang pahit. Maka bagaimanakah buah dari umur kita?. Sebelum usia kita berakhir, sebelum segalanya menjadi terlambat, dan agar kita tidak memanen usia dengan buah yang pahit di hari pembalasan, maka tanamlah di lahan-lahan waktu kita dengan pohon-pohon yang baik. Belajarlah kiat-kiat mendayagunakan waktu yang telah dipraktikkan oleh para salaf, generasi awal Islam. Karena mereka telah membuktikan, bahwa tidak ada waktu mereka yang berlalu sia-sia. Waktu mereka selalu terisi dengan ketaatan, kebaikan dan produktifitas.

(Ibnu Qoyyim)

Memaknai Tiap Hari Baru

hari baru

Kesempatan. Sepertinya itulah tafsir yang paling tepat untuk memaknai setiap hari baru. Bersama dengan datang bergantinya hari itu, kita memiliki kesempatan untuk terus menerbitkan kebaikan-kebaikan baru. Karena hanya dengan terus start up kebaikan, maka kita akan terus bertumbuh (growing up). Dan setiap satu satuan waktu harus diisi dengan tambahan kebaikan, agar kita tidak sekedar bertambah tua (growing old) he he 🙂

Betapa sekarang ini waktu terasa berjalan begitu cepat. Banyak kewajiban yang harus kita tunaikan, dan banyak hak yang harus kita penuhi. Betapa benar kalau ada yang mengatakan; kewajiban kita jauuuh lebih banyak dari waktu yang kita miliki. Dan sebagai orang beriman kita tahu, setiap pencapaian yang kita dapat bukanlah karena kemampuan dan kepintaran kita saja, tapi semua karena kehendak Allah. Maka, sepertinya kehidupan ini akan menjadi perjalanan yang mengasyikkan, hanya ketika kita mengalir indah bersama takdirNya. Dengan bagaimana?, dengan totalitas penghambaan, perjuangan dan do’a-doa kita. Iya, dan do’a, karena hanya do’a yang mampu mempertemukan kehendak kita dan kehendak Rabb kita.

Quote

Berjuanglah dengan Pena

Ini kebaikan yang luar biasa
Berjuanglah dengan pena-pena

Istirahat adalah nanti, nanti di surga
(Ust.Rahmat Abdulloh)

Catatan Awal Sya’ban

Waktu berjalan begitu cepat ya. Kita terus bertumbuh, dengan penjagaan Rabb kita.
Banyak sekali waktu yang sudah kita lewati. Dan kita tak mengerti hingga kapan kita tempuh perjalanan ini, hingga di titik mana kita berhenti.

Kita melewati banyak hal dan banyak ragam kehidupan. Hiruk pikuknya, jatuh bangunnya, terjal asyiknya, pasti  semuanya membekaskan kenangan dan hikmah yang dalam. Dan sepanjang waktu itu kita akhirnya belajar bahwa waktu adalah kehidupan. Kehidupan bukan cerita tentang berapa panjangnya usia, tetapi apa yang menjadi isinya.

Ah… betapa indahnya ya jika setiap perjalanan kehidupan ini kita lalui dengan sadar terjaga; penuh kesyukuran dan kesabaran. Hingga semuanya kita hadapi dengan kegembiraan, keberanian dan keuletan jiwa.

Mungkin saat ini kehidupan belum bermurah hati mewujudkan seluruh mimpi-mimpi kita. Tetapi selalu ada yang Maha Pemurah, Pencipta Semesta,yang mengerti dan mendengar harapan-harapan kita.  BersamaNya, selalu ada harapan dan cerita-cerita keajaiban.
Tiap hari yang datang adalah hadiah kesempatan untuk terus berjuang. Tiap hari baru adalah hadiah kesempatan untuk memperbaiki kelalaian masa lalu.

Sahabat, semoga Allah terus membantu kita ya.. untuk terus tegar dalam kehidupan ini, terus bangkit taat padaNya, terus berjuang di jalanNya, dan mencintaiNya hingga di penghujung takdir kita.

Semoga keberkahan terus Allah limpahkan untuk kita dan keluarga kita. Smoga kita sampai pada bulan Ramadhan.. Sya’ban dan Ramadhan jadi momen kebangkitan diri kita.. Aamiin.
Selamat bersiap.. 🙂

Yuk, hasilkan pangan sehat dari rumah

Apa kabar, sahabat? Wah, lama sekali saya tidak posting tulisan. Sebagai hadiah untuk sahabat, ada postingan baru yang seger-seger nih… Apa ya? 🙂

November 2012 kemarin alhamdulillah saya berkesempatan menjadi pendamping di suatu program pendampingan masyarakat, kerjasama ormas Persaudaraan Muslimah dan balitbang pertanian pusat. Nama program tersebut adalah Rumah Pangan Lestari (RPL), yang dilaksanakan di sebuah komplek perumahan di Kalasan Sleman. Ada 57 keluarga yang menjadi kooperator dalam program ini. Dari masing-masing keluarga tersebut yang ikut mayoritas ibu-ibu, tapi juga ada bapak-bapak karena mereka tertarik.

Program Rumah Pangan Lestari ini merupakan kegiatan yang mendorong warga untuk mengembangkan tanaman pangan maupun peternakan dan perikanan skala kecil dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah. Jadi, ini merupakan terobosan dalam menghadapi perubahan iklim melalui pemanfaatan pekarangan dalam mendukung ketersediaan serta diversifikasi pangan. Nah, seberapapun lahan pekarangan yang ada, bisa untuk hasilkan pangan dari rumah, karena untuk warga yang memiliki lahan terbatas bisa tetap menanam dengan teknik vertikultur. Awalnya model ini dibuat oleh para peneliti, kemudian diadopsi di beberapa provinsi di Indonesia. Tahun 2012 kemarin, dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun program ini sudah diadopsi oleh 11 provinsi di Indonesia. Dan karena program ini berhasil, FAO yang merupakan organisasi pangan dan pertanian dunia menyatakan minatnya untuk mengadopsi program ini.

Apa sih yang menarik dari program ini sehingga pemerintah mengembangkannya?. Menurut Menteri Pertanian kita, selain membantu dalam penyediaan pangan bagi warga, RPL juga diakui menurunkan tingkat pengeluaran rumah tangga antara Rp 200.000 hingga Rp 500.000 per bulan. Selain itu, program ini juga meningkatkan konsumsi protein masyarakat Indonesia yang saat ini sangat rendah. Konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia saat ini baru sebesar 7,6 kilogram per kapita per tahun, sedangkan di negara-negara maju telah mencapai 40 hingga 50 kilogram per kapita per tahun. Dengan peningkatan konsumsi protein serta penurunan konsumsi karbohidrat tersebut, maka diharapkan Pola Pangan Harapan (PPH) masyarakat Indonesia meningkat pula. PPH masyarakat Indonesia saat ini baru sekitar 80 masih dibawah target nasional sebesar 93, dari indeks 100.

Oh ya, selain di rumah-rumah, program ini bisa direalisasikan di tempat lain. Di JABAR misalnya, menurut cerita teman-teman saya yang juga menjadi pendamping, dalam merealisasikan program ini mereka bekerjasama dengan sekolah-sekolah dan juga di kantor instansi pemerintah. Selain itu, bisa juga dikembangkan di tempat-tempat umum, selain sebagai tanaman pangan, bisa juga sebagai hiasan. Wah.. asyik kan kalau bisa petik sayuran segar di pekarangan rumah sendiri?. Dan indah bukan, melihat sayuran-sayuran segar dimana-mana?

Di program pendampingan ini, warga diajari bagaimana membuat media tanam, cara menanam, cara merawat yang sehat, memilih pupuk yang tepat, dan bagaimana mengatasi hama tanaman serta membuat pestisida nabati. Dengan begitu, sayuran yang dihasilkan adalah sayuran organik yang segar.

Maka, sisi positif lain dari program ini adalah memberi alternatif kegiatan yang produktif untuk warga. Tanam-menanam bukan hanya sekedar untuk mengisi luang, tapi bisa menjadi kegiatan yang menghasilkan. Warga didorong untuk membuat kebun bibit bersama, sehingga bisa memenuhi kebutuhan bibit sendiri dan jika ada kelebihan bisa dijual. Dengan program ini, interaksi antar warga menjadi semakin erat. Mereka bisa bertemu dan saling menyapa pas sedang sama-sama menyiram sayuran atau pas sedang di kebun bibit. Seorang ibu, ketika ditanya tentang pendapatnya mengenai program ini, beliau menyampaikan;

“Rasanya senang bisa menanam sayuran di rumah. Dan senang bisa bareng-bareng dengan warga yang lain… kalau dulu, ketika bertemu tema obrolannya kurang jelas. sekarang kalau bertemu, yang diobrolkan sesuatu yang positif; bagaimana merawat tanaman dan harapan kalau nanti panen…”

hmm, bagaimana dengan sahabat, tertarik untuk menamam sayuran di pekarangan rumah?. Saya sudah mencobanya, dan menyenangkan. Setelah tahu tentang tanam-menanam sayuran ini, saya jadi pikir-pikir kalau mau menawar pas membeli sayuran. Kenapa? karena jadi ingat, perlu proses yang panjang dan tidak mudah untuk menanam sayuran itu. Tapi jangan takut mencoba ya.. Yuk menanam, hasilkan pangan sehat dari rumah! Daan, sering-sering berterimakasih dan berbaik hati pada petani dan penjual sayuran.. 🙂

gambar 1: vertikultur sayuran

gambar 1: vertikultur sayuran

gambar 2: sayuran menghias pinggir jalan

gambar 2: sayuran menghias pinggir jalan

gambar 3: variasi sayuran (sumber gambar: http://mkrplkotayogya.wordpress.com)

gambar 3: variasi sayuran (sumber gambar: http://mkrplkotayogya.wordpress.com)

Belajar Pada Bunga (2)

Saya takjub ketika keluar rumah pagi-pagi tadi. Ada yang menyapa saya dengan senyum tulusnya yang merekah. Siapakah?
Bunga-bunga saya.. 🙂
Ya, sungguh saya tertegun. Saya belajar, betapa bunga-bunga itu berjuang berlomba untuk ikut menghias taman. Masing-masing hadir dengan warna dan caranya sendiri. Meski ada yang hanya daun-daun tanpa pernah berbunga, selalu berusaha memberikan wajah tercantiknya. Ah saya iri.. alangkah indahnya jika sebagai manusia kita bisa terus bersatu, bersama-sama berjuang dan berlomba untuk menghias taman kehidupan ini dengan indah.

Nah, ini sebagian yang sempat saya ambil gambarnya..
cantik, kan?
Semoga dari hari ke hari hati-hati kita juga kian cantik..